Senin, 24 Januari 2011

KURIKULUM IDEAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ESENSIALISME


Kurikulum berasal dari bahasa Yunani ‘curere’ yang berarti jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari, mulai dari start hingga finish. Menurut istilah, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.[1]
Sedangkan menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Maksud dari kurikulum adalah untuk mengarahkan pendidikan  menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Dari penjelasan tersebut jadi jelaslah bahwa dalam penyusunan kurikulum pendidikan peranan filsafat sangat diperlukan. Filsafat adalah jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Filsafat dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupannya. Selain itu, filsafat merupakan arah dan pedoman atau pijakan dasar bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidikan.
Bentuk dan wujud reaksi, kreasi, pemahaman, gagasan-gagasan mengenai prinsip, dan cita-cita pendidikan  ini oleh para filsuf pendidikan disimpulkan dalam aliran-aliran filsafat pendidikan. Aliran-aliran filsafat pendidikan ini banyak sekali, diantaranya adalah aliran esensialisme.
Esensialisme ini berakar pada ungkapan bahwa alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya.[2] Aliran filsafat pendidikan esensialisme ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama, karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan-kebaikan untuk manusia.[3] Kebudayaan lama ini telah ada semenjak peradaban manusia dahulu, terutama semenjak zaman Renaissance dan berusaha untuk untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesenian zaman Yunani dan Romawi kuno.
Menurut esensialisme, pendidikan haruslah di atas pijakan nilai yang dapat mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama, dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi. Artinya, nilai-nilai itu menjadi sebuah tatanan yang menjadi pedoman hidup sehingga dapat mencapai kebahagiaan. Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari filsafat dan kebudayaan lama, yaitu 4 abad yang lalu (zaman renaissance).[4] Nilai-nilai sosial budaya ini menurut esensialisme adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur selama bertahun-tahun, yang berakar pada gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Maksudnya, nilai (kebenaran) tersebut bersifat korespondensi/berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objektif. Pola dasar pendidikan esensialisme ini didasari oleh pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniaan, serba ilmiah, dan materialistik.
Kurikulum menurut aliran esensialisme haruslah bersifat humanistik dan internasional. Karena tujuan dari pendidikan menurut esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan di akhirat sehingga dalam penyusunan kurikulumnya haruslah berdasarkan kepentingan efektifitas pembinaan kepribadian yang mencakup ilmu pengetahuan yang harus dikuasai dalam kehidupan dan mampu menggerakkan keinginan manusia. Sehingga dalam hal ini peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan menjadi lebih berfungsi, berhasil guna, dan berdaya guna sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial.
Kurikulum menurut esensialisme juga harus lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Maksudnya yaitu kurikulum itu harus disusun berdasarkan atas pribadi anak didik sehingga perlu untuk diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian. Oleh karena itu, setiap sekolah perlu untuk menyusun kurikulumnya sendiri-sendiri yang disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan anak didiknya. Karena pada dasarnya sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun-temurun dan menjadi penuntun penyesuaian orang pada masyarakat.
Menurut esensialisme, kurikulum sekolah diibaratkan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran, dan keagungan.[5] Dengan disusunnya kurikulum sekolah ini diharapkan tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai dan hubungan antara stake holder pendidikan dapat lebih harmonis.
Dari penjelasan tersebut dapat dijelaskan bahwa konsep kurikulum ideal menurut esensialisme adalah lebih bersifat humanistik. Artinya kurikulum itu harus mampu membuat peserta didik mengembangkan kemampuan yang dimiliki dan mendisiplinkan dirinya sendiri sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Tugas seorang pendidik dalam kurikulum esensial ini adalah sebagai seorang pengawas yang bertugas untuk mengarahkan proses perkembangan intelektual peserta didiknya.


[1] Cempluk.    2008.    Kurikulum    Pendidikan    di    Indonesia.    (Online), (http://www.cemplukmedia.com/kurikulum-pendidikan-di-indonesia-htm, diakses 8 Maret 2009).
[2] Oong Komar. Filsafat Pendidikan Nonformal. Bandung: CV Pustaka Setia. 2006. Hlm. 158.
[3] M. Djumberansyah Indar. Filsafat Pendidikan. Surabaya: Karya Abditama. 1994. Hlm. 134.
[4] Wiji Suwarno. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2006. Hlm. 56.
[5] Jalaluddin dan Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan; Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2007. Hlm. 101.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar